Secarik Catatan Pendakian Gunung Kembang via Lengkong

 

Gunung Kembang 2.340 mdpl


Informasi Umum

Secara administratif, Gunung Kembang terletak di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Gunung Kembang terletak di sebelah barat daya Gunung Sindoro dan berada di bawah Dataran Tinggi Dieng. Gunung Kembang sering dijuluki sebagai "anak" dari Gunung Sindoro, julukan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena Gunung Kembang yang letaknya sangat dekat, bahkan cenderung nempel, dengan Gunung Sindoro dan ukuran Gunung Kembang yang kecil pun membuatnya semakin cocok untuk dijuluki sebagai "anak" dari Gunung Sindoro.

Gunung Kembang dikenal oleh kalangan pendaki karena kebersihannya yang konon merupakan gunung paling bersih di Jawa Tengah. Tidak heran, Gunung Kembang bisa dikenal sebersih ini karena merupakan gunung yang realtif masih baru bagi dunia pendakian, tahun 2018 merupakan tahun pertama bagi Gunung Kembang dibuka secara resmi untuk pendakian bagi masyarakat umum.

Selain faktor di atas, mengapa gunung ini merupakan gunung yang sangat bersih adalah karena Gunung Kembang bukan merupakan gunung yang menjadi favorit bagi kalangan pendaki, faktor ketinggian yang tanggung, nama yang tidak terkenal, dan ukuran gunung yang cenderung "mini", membuat Gunung Kembang menjadi sepi dikunjungi oleh pendaki jika dibandingkan gunung-gunung lain disekitarnya seperti Sindoro, Sumbing, dan Prau. Gunung Kembang memiliki ketinggian puncak yaitu 2.340 meter di atas permukaan laut.

Pra-Pendakian

Gunung Kembang memiliki dua jalur pendakian resmi, yakni jalur pendakian via Blembem dan via Lengkong. Jalur yang cenderung ramai dan terkenal yaitu jalur Blembem, sedangkan jalur Lengkong cenderung lebih sepi jika dibandingkan dengan jalur Blembem.

Basecamp Gunung Kembang via Lengkong

Basecamp Gunung Kembang via Lengkong terletak di Dusun Salaman, Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Lokasi basecamp ini sudah tersedia di penanda tempat di Google Maps, ikuti saja petunjuk arahnya, pilihlah pilihan jalur yang paling mudah dan efisien.

Saya beserta tiga kawan saya, total berempat, mendaki gunung ini pada hari Senin—Selasa tanggal 17—18 Juli 2023, yang merupakan hari pertama tahun ajaran baru sekolah dimulai, juga merupakan h-2 sebelum 1 suro.

Kami sengaja mengincar di hari Senin—Selasa dalam melakukan pendakian karena ingin merasakan suasana gunung yang sepi. Namun, tidak kami duga bahwa ternyata hanya akan ada kelompok kami saja pada malam itu di Puncak Gunung Kembang.

Biaya registrasi Basecamp Gunung Kembang via Lengkong terbilang lebih murah daripada Basecamp via Blembem, biaya registrasi per orang hanya sebesar Rp30.000. saja dengan rincian Rp20.000. untuk biaya Perhutani dan Rp10.000. untuk fasilitas basecamp. Kemudian, terdapat biaya untuk parkir motor sebesar Rp10.000. dan untuk parkir mobil sebesar Rp25.000. Tersedia pula ojek dari Basecamp hingga Pos Lembah Sirebut seharga Rp20.000. untuk siang hari, dan Rp25.000. untuk malam hari.

Fasilitas basecamp yang tersedia di Basecamp Gunung Kembang via Lengkong ini meliputi: ruangan basecamp untuk tidur, kamar kecil, dan wifi yang lancar.

Kami berangkat dari rumah ke Basecamp pada hari Minggu sore, 16 Juli 2023, kemudian menginap semalam sebelum mendaki di keesokan paginya. Dengan cara seperti ini, kita dapat memaksimalkan kondisi fisik pada saat pendakian.

Pagi harinya kami mencari warung makan ke arah bawah sekitar 5 km (10 menit) dari basecamp. Karena di area basecamp tidak ada warung yang buka. Kami menemukan warung kecil pinggir jalan, yaitu Warung Makan Biru Laut yang telah buka di pagi hari (setengah 7 pagi). Harga dan rasanya tidak mengecewakan, bahkan kami membeli 4 nasi rames untuk dimakan di jalur pendakian nantinya. Setelah sarapan, kami mampir ke masjid terdekat untuk menumpang buang air, supaya di jalur pendakian nanti aman dari hal-hal yang tidak diinginkan (kebelet). Karena WASH di basecamp yang kurang nyaman, jadi kami putuskan untuk ke toilet masjid, hehehe.

Nasi Rames Telur Warteg Biru Laut

Setelah sarapan, mampir masjid, bersih-bersih, dsb. Kami kembali menuju basecamp untuk bersiap mendaki ke puncak Gunung Kembang. Setelah persiapan satu dan lain hal, akhirnya kami start pendakian dari bascamp dengan menggunakan ojek sekitar pukul 10.00 WIB

Cerita Pendakian

Durasi pendakian Gunung Kembang via Lengkong ini sekitar 4—5 jam pendakian. Jika ditempuh menggunakan ojek maka dapat ditempuh sekitar 3—4 jam. Semuanya tergantung spek kaki-kaki. Dengan menggunakan ojek, kita dapat menghemat waktu sekitar 1 jam-an dengan ketinggian yang diraih dengan ojek yaitu ±300 mdpl.

Dari Basecamp hingga Pos Lembah Sirebut ditempuh dengan menggunakan ojek sekitar ±5—10 menit, dengan jalan yang menanjak dengan kondisi cor dan sebagian berbatu.

Kemudian, dari Pos Lembah Sirebut lanjut berjalan menuju Pos 1 sekitar ±10 menit, kondisi jalan landai, tanah jalan setapak.

Pos 1 Gunung Kembang via Lengkong

Kemudian, dari Pos 1 ke Pos 2 bayangan merupakan rute terjauh, ditempuh sekitar ±50 menit. Kondisi jalur yang awalnya landai, kemudian menanjak dengan tekstur tanah jalan setapak.

Pos 2 Bayangan Gunung Kembang via Lengkong

Kemudian, dari Pos 2 Bayangan ke Pos 2 ditempuh sekitar ±40 menit dengan vegetasi hutan yang cukup tertutup, lembab, dan adem. Kondisi track yang menanjak, tetapi masih ramah bagi dengkul. Ketika kami tiba di Pos 2, kami melihat asap di sekitar kami. Eh, ternyata itu bukan asap, melainkan uap keringat yang keluar dari masing-masing tubuh kami berempat! Keren, bukan? Suhu tubuh yang tinggi ditambah suhu udara yang rendah dan lembab membuat uap keringat terlihat cukup jelas keluar dari tubuh kami. Di Pos 2 ini juga kamu dapat mendengar dengan jelas suara burung yang sedang berkicau dengan lantang.

Jalur Pendakian ke Pos 2 dan Foto Pos 2 Gn, Kembang via lengkong

Kemudian, dari Pos 2 ke Pos 3 Bayangan dapat ditempuh sekitar ±15 menit dengan track yang tidak jauh berbeda dengan track sebelumnya.

Pos 3 Bayangan Gunung Kembang via Lengkong

Selanjutnya, pendakian dari Pos 3 Bayangan menuju Pos 3 tidak terlalu jauh, hanya memerlukan waktu sekitar ±7 menit saja. Dengan kondisi track yang sama dengan sesi sebelumnya.

Pos 3 "Igir Bima" Gunung Kembang via Lengkong

Kemudian, durasi pendakian dari Pos 3 ke Pos 4 kita tempuh dengan durasi sekitar ±75 menit, kami agak lama karena di jalur sempat ketiduran sebentar. Pada sesi ini, kita akan melewati Mata Air, tetapi mata airnya kering, tidak bisa digunakan untuk mengisi ulang persediaan air kita. Track dari Pos 3 ke Mata air cukup menanjak dan melewati hutan lebat yang lembab. Setelah sampai di batas vegetasi (di atas Mata Air) maka jalur pendakian mulai menanjak curam, kondisi track tidak seperti sesi-sesi sebelumnya, tetapi sekarang seperti track summit attack yang curam dengan vegetasi terbuka, sehingga dengkulku pun terasa ngos-ngosan.

Ketika melewati track "summit attack" ini kita harus sangat berhati-hati, karena kalau jatuh bisa menggelinding jauh ke bawah. Pada beberapa titik disediakan tali untuk membantu para pendaki. Sekali lagi, hati-hati saat melewati track ini.

Setelah sampai Pos 4, kami membuka bekal nasi rames yang dibawa dari bawah tadi, kita makan bersama dan istirahat di sini sekitar ±45 menit.

Kondisi Jalur dari Pos 3 ke 4 dan Foto Pos 4

Dari Pos 4 ke Jalur Akhir Pendakian sekitar ±15 menit, dengan kondisi track yang sebagian masih curam seperti "summit attack" dan sebagian di akhir pendakian agak landai dengan ilalang yang lebat. Kemudian dari jalur akhir pendakian hingga ke puncak camp area sudah dekat dengan track yang landai, durasi tidak sampai 5 menit.

Uniknya, saya kira Puncak Gunung Kembang yang ada plang buat foto-foto itu lokasinya tidak benar-benar di puncak. Jadi sebenarnya jika mendaki via Lengkong, kita akan melewati puncak sebenarnya, kemudian agak turun sedikit untuk ke Puncak yang ada plangnya (ini opini saya aja, hehehe). Lokasi tempat camp berada di puncak ya guys, jadi besok paginya ga perlu ngoyo summit attack, hehehe.

Pemandangan pertama setelah sampai titik akhir pendakian

Setelah mencapai titik akhir pendakian (setelah itu jalurnya landai), kita akan menuju camp area yang terletak di puncak Gunung Kembang, berjalan sekitar 3 menit kita sudah sampai. Setelah sampai, kita merebahkan carrier terlebih dahulu, kemudian menyiapkan tenda supaya kita dapat istirahat dengan aman dan nyaman. Di puncak Gunung Kembang hanya ada rombongan kami, tidak ada satu orang pun selain kami di sini, sungguh sunyi dan betapa nikmatnya alam ini.

Pemandangan Gunung Sumbing dari Puncak Gunung Kembang

 Pemandangan Gunung Sindoro dan Kaldera Gunung Kembang dari Puncak Gunung Kembang

 Camp Area di Puncak Gunung Kembang

 Pemandangan Gunung Sindoro dari Puncak Gunung Kembang saat Cuaca sedang Cerah


Cerita di Puncak

Kami sampai di puncak sekitar pukul 14.50 WIB. Setelah mendirikan tenda dan menata barang bawaan, saya langsung mencari spot untuk tiduran di rumput sembari menatap birunya langit gunung yang cerah tanpa polusi. Kala berbaring di atas rerumputan, terdengar suara hembusan angin yang menabrak pepohonan dan ilalang, sesekali ilalang menggeliyut di atas mataku. Sempat memejamkan mata, tetapi diri tak kunjung tertidur. Selalu saja datang pikiran yang hadir untuk diperdebatkan.

Tidur di atas rumput empuk, ini langit bagian atasnya biru cerah kok.

Hari semakin sore, langit yang tadinya biru beranjak menjadi jingga, kini saatnya bangun, mencari spot lagi untuk melihat pemandangan cahaya sunset yang menabrak Sumbing dan Sindoro.

Langit jingga lambat laun berubah menjadi gelap, udara terasa semakin dingin, dan hembusan angin perlahan semakin kencang. Kami langsung masuk tenda untuk bermain kartu poker, berbincang-bincang, hingga pada akhirnya memasak untuk makan malam.

Sunset di Gunung Kembang

Pukul 19.30 WIB diri ini mendapatkan panggilan alam, bergegas ke luar tenda sembari membawa satu botol besar dengan sedikit air untuk membasuh "itu". Mencari semak-semak yang jauh dari tenda, kemudian di situlah hamba buang air kecil. Karena sudah terlanjur di luar tenda, ya kali ga nikmatin taburan bintang di angkasa. Hamba menatap langit, mencari bintang terindah, bintang tercerah, tetapi diri ini curiga, kok itu seperti milky wayy........ Iseng-iseng motret pake HP, HP-nya kutaruh di tanah, tunggu sekian detik, dan BOOMMM..... 

Ternyata benar, itu adalah milky way, walau tidak seindah tangkapan kamera, tetapi melihat Galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang di gunung yang langitnya minim polusi, sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa.

Galaksi Bima Sakti, shot by Poco X3 NFC

Pukul 22.00 WIB, angin mulai tak bersahabat, angin kencang bolak-balik menabrak tenda kami, tenda yang posisinya berada di tengah-tengah puncak. Sungguh sebuah kebodohan, karena kami mendirikan tenda di puncak yang kondisinya lahan terbuka, view dari tenda memang bagus, tetapi tidak bagus jika cuaca berangin, apalagi jika terjadi badai seperti yang terjadi saat itu. Mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 05.15 WIB, tenda kami dihantam terus-terusan oleh angin, hingga berulang kali kami ke luar tenda untuk memasang kembali pasak tenda yang lepas. Tidur pun tidak bisa nyenyak, suara angin kencang yang menabrak tenda membuat kami selalu waspada, takutnya itu adalah suara babi, frame tenda pun kalah dengan angin itu, berulang kali frame bengkok, untung tidak sampai patah.

Pukul 05.30 WIB, angin sudah beranjak menjadi tenang, waktunya mentari menampakkan diri, hamba putuskan diri ini ke luar tenda, untuk menyambut terbitnya sang mentari. Beruntung, pagi itu cuaca sedang cerah-cerahnya. Terlihat hampir semua gunung di Jawa Tengah, mulai dari Sumbing, Sindoro, Merbabu, Merapi, Andong, Telomoyo, Lawu, Slamet, hingga Ciremai yang terletak di Jawa Barat pun kelihatan dari gunung ini. Walaupun malamnya dihantam badai habis-habisan, setidaknya paginya kita dapat menikmati pemandangan dengan cuaca cerah. 

Sunrise di Gunung Kembang

Sarapan but with view

Nglemprak but with view

Sumbing dari Kembang

Sindoro dari Kembang

Burung yang sering terlihat di puncak Gn. Kembang

Cerita Turun Gunung

Pemandangan Ketika Turun

Sekitar jam 10.45 WIB kami putuskan untuk start turun gunung, dengan kecepatan turun yang hampir tanpa istirahat, kami sampai Pos 1 tepat pukul 11.47 WIB. Kemudian kami menelepon pihak BC untuk memesan ojek, ojek turun harganya sama dengan ojek naik, yaitu sebesar Rp20.000.

Setelah sampai BC, kita langsung tancap gas mencari ES...... Naik motor mencari warung, membeli beberapa bungkus es untuk dinikmati pada kondisi tubuh yang sudah kehabisan energi ini. Sudah menjadi tradisi, bahwa hal yang pertama dicari setelah turun gunung adalah ES!

Sekian, secarik catatan pendakian Gunung Kembang via Lengkong. Bagi kamu yang tertarik mendaki gunung, cobalah Gunung Kembang! Track gunung ini terbilang ramah bagi pemula.

Rangkuman

  • Harga registrasi: 30k/orang, parkir motor 10k, parkir mobil 25k, ojek siang 20k, ojek malam 25k
  • Durasi pendakian 45 jam, jika naik ojek 3—4 jam (waktu istirahat di setiap Pos tidak dihitung)
    • BC—Pos Lembah Sirebut = 5 menit naik ojek
    • Pos Lembah Sirebut—Pos 1 = 5 menit
    • Pos 1—Pos 2 Bayangan = 50 menit
    • Pos 2 Bayangan—Pos 2 = 40 menit
    • Pos 2—Pos 3 Bayangan = 15
    • Pos 3 Bayangan—Pos 3 = 7 menit
    • Pos 3—Pos 4 = 75 menit
    • Pos 4—Titik akhir pendakian = 15 menit
    • Puncak/Camp Area = 3 menit 
    • TOTAL = 215 menit (3,5 jam)
  • Durasi turun sekitar 2—3 jam
  • Track dari BC ke Pos 1 merupakan jalan setapak yang bisa dilalui motor. Dari Pos 1 sampai mendekati Pos 4 merupakan hutan tertutup, track menanjak, terdapat beberapa bonus, ramah dengkul, dan cukup adem. Dari bawah pos 4 hingga puncak track terbuka, terbilang curam, seperti summit attack.

nb: cerita dan foto yang termuat pada blog ini merupakan aset pribadi milik penulis, dilarang memperbanyak, mengupload, atau menyebarluaskan tanpa izin dari penulis. 


-regards 

Komentar