Berkunjung ke Situs Sejarah Pulau Doom - Modul Nusantara 1 (Kebhinekaan)



Telah genap satu pekan hadirku di tanah Papua, tepatnya di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong. Jiwa dan raga sudah mulai beradaptasi dengan kehidupan di sini, kehidupan yang benar-benar jauh dari keluarga, jauh dari kehidupanku yang nyata. Di sini aku serasa menjalani kehidupan baru, membuka lembaran di antara orang, tempat, dan suasana yang benar-benar asing. Namun, anehnya, beberapa di antara kawan-kawan PMM ini ada yang mukanya tidak asing, seperti terasa bahwa kami pernah bertemu sebelumnya, hahaha.

Pekan pertama di sini saya sudah mulai mengetahui warung-warung mana yang cocok di kantong, menu makanan yang paling populer di daerah sini adalah nasi kuning dengan harga 10 ribu, harga 10 ribu untuk nasi kuning telur merupakan harga rata-rata di sini, ada yang 10 ribu sudah dapet telur utuh, bahkan ada yang dapat ayam kecil, semuanya tergantung warung mana yang kau pilih.

Harga barang-barang di sini pun tidak terlalu mahal selangit seperti yang saya bayangkan dulu. Memang sih, harga barang-barang di sini lebih mahal daripada di Pulau Jawa, tetapi masih cukup wajar, tidak semahal di daerah Papua lain, bahkan beberapa komoditas masih ada yang harganya sama dengan di Pulau Jawa. Bahkan harga barang di Alfamart Malawele sini pun masih ada yang sama dengan barang di Alfamart Pulau Jawa. Walau memang kebanyakan sedikit lebih mahal sih. 





Jalan-jalan ke Pasar Remu

Pada hari ke-empat di sini, kami kelompok 10 beranjak jalan-jalan ke Kota Sorong. Kami naik taksi (angkot) dari halte kampus Unimuda ke Pasar Remu Kota Sorong, kami carter 2 mobil taksi untuk mengantarkan kelompok kami ke Kota. Tarif taksi seharusnya 14 ribu per orang untuk sekali jalan, tetapi kami nego menjadi 10 ribu per orang. Kurang lebih perjalanan selama 40 menit dari Kampus Unimuda, ke Pasar Remu Kota Sorong.

Pasar Remu merupakan salah satu pasar tradisional besar di Kota Sorong, kami didampingi oleh LO kelompok kami ketika jalan-jalan di sini, kami diajak muter-muter pasar untuk melihat hal-hal yang dijual di sini. Pertama kali datang ke sini, diri ini speechless karena banyak yang menjual barang-barang modern seperti alat elektronik, kipas mini, skincare, bodycare, dsb. Sudah seperti shopii tapi ini adalah versi offline.

Hal menarik yang dijual di sini diantaranya ada noken, sagu, dan aksesoris pernak-pernik khas Papua. Namun, untuk pernak-pernik di sini harganya sangat mahal, harus pintar-pintar nego, walaupun setelah dinego masih mahal, setidaknya harganya sudah berkurang. Untuk noken dibandrol dengan harga 50 ribu sampai 150 ribu, 150 ribu untuk noken yang terbuat dari kulit kayu asli. Sy hanya melihat-lihat, belum mampu membelinya, masih sayang juga dengan duitku, baru beberapa hari di Papua masa langsung mau jadi miskin.







Setelah kami jalan-jalan dan makan es campur dan Bakso Solo Pak Ateng di Pasar Remu, kami lanjut jalan-jalan menuju Pantai di Pelabuhan SAR Doom. Sebenarnya itu bukan pantai untuk wisata, karena tidak ada tiket masuk, melainkan itu hanya pelabuhan taksi air menuju Pulau Doom saja. Namun, pantai di sebelah pelabuhan Doom itu terdapat sebagian pantai berpasir putih yang masih bagus dan airnya pun jernih. So, dibawalah kami kelompok 10 ke pantai tersebut oleh LO kelompok kami.








Pantainya cukup indah, tetapi sungguh disayangkan bahwa pantai di bagian pelabuhannya sangat banyak sampah. Kami ke sini hari Kamis, kemudian hari Minggunya kami akan ke pelabuhan sini lagi untuk menyebrang ke Pulau Doom dalam rangka melaksanakan Modul Nusantara.


Apa itu Modul Nusantara?

Sebelum masuk ke cerita Modul Nusantara, apkh klen tau ap itu Modul Nusantara? Modul Nusantara merupakan inti dari segala inti pada program PMM ini. Modul Nusantara adalah serangkaian kegiatan di luar kelas yang seluruh pesertanya merupakan mahasiswa PMM dari berbagai daerah yang disatukan menjadi satu kelompok multikultur yang beranggotakan kurang lebih 20 mahasiswa, kelompok MN ini dibimbing oleh satu Dosen Modul Nusantara dan dibantu oleh satu LO.

Tujuan dari kegiatan Modul Nusantara adalah untuk:
  • Memaksimalkan ruang jumpa mahasiswa, menambah, pemahaman, dan pengendapan makna toleransi. 
  • Memperkenalkan kekayaan kebudayaan nusantara yang bersumber dari berbagai golongan, suku, ras, agama, dan kepercayaan. (source: pusatinformasi.kampusmerdeka.kemdikbud.go.id)
Kegiatan Modul Nusantara terdiri dari 16x pertemuan yang dilaksanakan setiap akhir pekan, 16x pertemuan tersebut terbagi menjadi beberapa jenis kegiatan, diantaranya:
  • 8x Kebhinekaan
  • 2x Inspirasi
  • 5x Refleksi
  • 1x Kontribusi Sosial
Kegiatan Kebhinekaan merupakan kegiatan favorit mahasiswa PMM, karena pada kegiatan ini mahasiswa PMM akan diajak berkunjung ke tempat-tempat menarik yang dapat meningkatkan rasa kebhinekaan pada diri kita seperti kunjungan ke tempat bersejarah, museum, rumah ibadah, rumah adat, dan sebagainya.

Kegiatan Inspirasi adalah kegiatan dimana mahasiswa akan mendengarkan talkshow inspiratif dari orang-orang penting, berpengaruh, berprestasi, dan sebagainya.

Kegiatan Refleksi merupakan waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk sharing-sharing di dalam kelompok tentang pengalaman kebhinekaan atau pengalaman lain yang dapat menambah wawasan dan pemahaman mengenai keberagaman.

Kegiatan Kontribusi Sosial merupakan kegiatan terbesar pada rangkaian kegiatan Modul Nusantara, biasanya dilaksanakan di pekan terakhir perkuliahan, yaitu pada pekan ke 16. Pada kegiatan ini, mahasiswa akan melakukan kontribusi sosial di daerah PT Penerima seperti melakukan bakti sosial, pentas budaya, dan sebagainya.

Pada kegiatan Modul Nusantara tersebut, semua kelompok MN akan melakukan secara bersamaan di akhir pekan, tetapi tetap berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing dengan didampingi Dosen MN dan LO. Namunnnn, karena di Unimuda ini terdapat 366 mahasiswa PMM yang terbagi menjadi 14 kelompok, maka kegiatan Modul Nusantara terbagi menjadi 2 kloter, yaitu kloter Sabtu dan Minggu yang tiap pekannya akan bergantian, jika kemarin sy MN di hari Sabtu berarti besok sy MN di hari Minggu, begitupun sebaliknya dan seterusnya.


Modul Nusantara 1 - Kunjungan ke Pulau Doom

Modul Nusantara pertama yang dijadwalkan oleh Unimuda adalah Kunjungan ke Pulau Doom, kelompokku dapat giliran di hari Minggu, tanggal 10 September 2022. Kami berkumpul mulai pukul 07.00 WIT di halaman depan Masjid Unimuda, sebanyak kurang lebih 180an orang berangkat bersama menuju Pelabuhan Doom di Kota Sorong dengan menggunakan 2 bus kampus, 1 microbus dan 2 truk brimob.

Start beranjak pada pukul 08.00 WIT dari kampus Unimuda, kemudian sampai di Pelabuhan Doom pada sekitar pukul 08.50 WIT. Truk dan Bus kami hanya mengantar sampai jalan raya saja karena tidak bisa masuk ke gang pelabuhan, jadi kami turun di tepi jalan raya kemudian berjalan bersama menuju ke Pelabuhan Doom sekitar 200 meter jalan kaki. Setelah sampai di Pelabuhan Doom, kami tidak langsung naik ke perahu, kami harus antre bergantian untuk menyebrang ke Pulau Doom karena terbatasnya jumlah perahu yang disewa.

Truk Brimob

Jalan Masuk ke Pelabuhan

Antre di Pelabuhan Doom

Taksi Air/Perahu Penyebrangan ke Pulau Doom

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, akhirnya kami yang laki-laki, terakhir nyebrang, dapat kesempatan untuk menyebrang ke Pulau Doom menggunakan perahu. Perjalanan naik perahu ini tidak lama, hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja.

Tarif penyebrangan perahu ini untuk masyarakat umum hanya sebesar 5 ribu per orang untuk sekali jalan, biasanya penumpang akan menunggu perahu terisi beberapa orang terlebih dahulu sebelum berangkat, jika bapak yang punya kapal sudah merasa cukup dengan penumpang yang ada, maka perahu akan berangkat menyebrang ke Pulau Doom. Tarif dari Pelabuhan Pulau Doom ke Pelabuhan Sorong pun sama, yaitu sebesar 5 ribu rupiah. Jika kamu ingin langsung berangkat tanpa menunggu kapal terisi oleh penumpang lain, maka kamu bisa nego kepada yang punya kapal mulai 30 ribu rupiah saja, kamu bisa langsung menyebrang tanpa menunggu penumpang lain.









Setelah kami sampai ke Pulau Doom, kami 180 orang, 7 kelompok, dibagi menjadi dua tim dengan arah perjalanan yang berbeda. Kami diajak berkeliling oleh pemandu wisata setempat ke sudut-sudut Pulau Doom yang masih memiliki berbagai peninggalan sejarah sejak zaman Jepang hingga Belanda. Belanda datang ke Papua, atau lebih tepatnya ke Pulau Doom ini, sejak tanggal 19 April 1935 dan menetap di sini hingga tahun 1962. Jadi, ketika Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, di Papua belum merdeka karena masih ada pihak Belanda di sini.



Saya pribadi tidak seluruhnya tau dan hafal tentang sejarah yang diceritakan oleh tour guide kami, lha gimana, terlalu ramai cuy, suara tour guide ga kedengeran jadinya. tp gpp. Jadi intinya kami mengunjungi beberapa peninggalan sejarah yang masih tersisa di Pulau Doom ini, diantaranya:
  1. Rumah peninggalan Belanda
  2. Bunker Pillbox peninggalan Jepang
  3. Pos Penjagaan penginggalan Belanda
  4. Penjara peninggalan Belanda
  5. Masjid tertua di Pulau Doom
  6. Goa Jepang
Lampiran:
























Setelah kami berkeliling melihat dan mendengar kisah dari situs-situs sejarah yang ada di Pulau Doom, akhirnya kami istirahat makan siang di salah satu spot pinggir pantai di sini, tidak ada namanya, biaya masuk per orang hanya lima ribu rupiah.














*artikel blog ini belum selesai, soalny sy sdg malas.



-regards.







Komentar