Aku, Peta, dan Keberangkatan Menuju Tanah Papua - PMM 3 Inbound Unimuda




Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita telah dikenalkan pada negara kita, negara Indonesia, yang telah terbentuk dari berbagai suku, agama, dan bahasa daerah yang sangat beragam. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang tersusun atas ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Saat masih kecil, aku suka melihat dan mengamati peta negara Indonesia, karena bentuknya yang unik seperti sebuah kapal besar. Karena aku sangat suka dengan peta, maka salah satu buku favoirtku saat masih kecil adalah atlas. Kesukaanku terhadap peta masih berlanjut hingga sekarang, jika dahulu aku memakai peta di buku atlas, sekarang aku sudah beralih ke peta digital, yaitu menggunakan aplikasi Google Maps. 

Peta Indonesia

Karena aku suka dengan peta, maka aku pun suka jalan-jalan. Aku suka menjelajahi lokasi alam menarik yang belum pernah kudatangi, terakhir kali aku menjelajah ke Bukit Siregol, Purbalingga. Bukit Siregol cukup menarik perhatianku karena kondisi topografi pegunungan yang unik. Bukit² berbentuk seperti prisma segitiga berjejer rapi. Di antara salah dua bukit itu pula terdapat satu jalan aspal yang terbentang dari utara ke selatan. 

Peta 3D Bukit Siregol

Topografi Bukit Siregol

POV Motoran di Area Bukit Siregol

Bukit Siregol

Bukit Siregol (1)

Salah satu impian terbesarku pada bidang traveling adalah aku ingin menginjakkan kaki ke tanah Papua, walaupun sekali seumur hidup, sebelum mati aku harus sudah pernah ke Papua. Angan² ini terbesit dalam benakku sejak kecil.

Kemudian, saat aku SMA adalah masa-masa libur covid, karena itu libur terpanjang, sehingga aku sering merasa gabut. Kalian tahu kan? Bahwa hobiku adalah melihat dan menelusuri peta? Maka waktu gabutku itu aku isi dengan kegiatan meng-eksplore keindahan Indonesia lewat Google Maps. Karena kegiatan gabutku itu, angan²ku untuk menginjakkan kaki ke tanah Papua semakin kuat.

Angan-angan bukanlah sekedar angan. Beruntungnya diri ini karena sekarang, pada masa kuliah semester 3 ini, aku telah diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Papua secara gratis melalui program yang ditawarkan oleh pemerintah, yaitu Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka batch 3.

@pertukaranmahasiswamerdeka


Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) merupakan salah satu program dari kebijakan MBKM yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek. Program PMM memberikan kesempatan bagi mahasiswa semester 3, 5, dan 7, untuk menempuh kuliah di luar perguruan tinggi dan bahkan di luar program studi.

Aku sudah tahu informasi tentang PMM ini sejak semester satu, karena saat itu ada kakak tingkatku yang ikut PMM batch 2 di Pulau Sumatera. Setelah aku tahu bahwa dia ikut pertukaran mahasiswa, kutanyakan banyak hal kepadanya tentang PMM, hingga sekarang ini akhirnya aku bisa merasakan sendiri untuk menjadi mahasiswa peserta PMM batch 3. 

Pendaftaran PMM 3 dibuka pada bulan Maret—Mei 2023, bergegaslah aku untuk mendaftar program tersebut. Pada awalnya, aku lebih tertarik untuk ke Kupang, NTT, lebih tepatnya ikut PMM ke Universitas Nusa Cendana. Mengapa aku lebih tertarik ke Kupang daripada yang lain? Karena jika kulihat dan kujelajahi dari Google Maps, pantai di daerah NTT itu tiada duanya, sungguh pantainya putih, bersih, dan indah.

Namun, sayang seribu sayang, Universitas Nusa Cendana tidak mendaftarkan dirinya untuk menjadi universitas penerima mahasiswa PMM 3. Sehingga, terpaksa aku harus merelakannya, walau agak sedih, tp gpp. Padahal, aku sudah menyiapkan list tempat² indah yang ingin aku kunjungi. Hmmmm........ tiada mengapa.

Kemudian, karena aku masih teringat bahwa aku punya angan² untuk ke pulau Papua, maka kuputuskan untuk ikut PMM 3 ke pulau Papua. "Mumpung tiket pesawat gratis, mengapa tidak sekalian pilih yang jauh, lagian Papua adalah salah satu bucket listku", begitu pikirku.

Setelah mencari informasi tentang beberapa kampus penerima PMM 3 di pulau Papua, awalnya aku tertarik untuk ke Universitas Musamus, Merauke, karena letaknya yang berada di ujung Indonesia, dekat dengan perbatasan Papua Nugini. Namun, jika dibandingkan dengan Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong , Modul Nusantara yang ditawarkan oleh Unimuda jauhhh lebih menarikkkk....... Karena Unimuda menawarkan Modul Nusantara yang cukup unik seperti melihat langsung cara membuat papeda, berkunjung ke Pulau Doom, dsb, hingga pada puncaknya yaitu akan berkunjung ke Raja Ampattt........

Pamflet Promosi PMM 3 Inbound Unimuda


Siapa coba yang tidak tergoda untuk pergi ke Raja Ampat secara gratis (?)

Oleh sebab itu, setelah menimbang satu dan dua hal, akhirnya Unimuda Sorong menjadi pilihan pertamaku pada pendaftaran PMM 3. Di Sorong sudah lebih modern daripada di Merauke. Di Sorong juga sudah ada Alfamart dan Indomaret, sedangkan di Merauke belum ada. Soo.... Unimuda Sorong is my choice.

Singkat cerita, akhirnya aku diterima pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka batch 3 di Unimuda Sorong 🤙

Bandara Ahmad Yani Semarang

Aku memilih keberangkatan dari bandara terdekat dari rumahku, yaitu Bandara Ahmad Yani Semarang. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiket pun sudah datang di inbox emailku, tertera di sana bahwa aku akan berangkat ke Sorong, Papua, pada tanggal 01 September 2023, pukul 18.10 WIB dari bandara Ahmad Yani Semarang menggunakan maskapai Batik Air, transit sekali di Jakarta, tiba di Jakarta pada pukul 19.15 WIB. Kemudian, dari Jakarta take off menuju Sorong pada pukul 00.05 WIB dan tiba di Sorong pada pukul 06.10 WIT. Perasaanku nano-nano, karena akhirnya tiket sudah di depan mata. Everything become real.

H-1 keberangkatan telah tiba, grup chat PMM 3 Unimuda Sorong via Bandara Ahmad Yani pun mulai ramai pada h-1, kami janjian untuk bertemu di bandara pada jam 3 sore. Aku mulai packing pada malam 2 hari sebelum keberangkatan, kemudian dilanjut packing di malam sebelum keberangkatan hingga pukul setengah 3 pagi. Itu packing terlama dan termepet dalam seumur hidupku, padahal pagi harinya jam 7 ada kuliah daring, kemudian jam 9 sudah harus otw ke Semarang. Agak bodo memang, packing untuk 4 bulan diselesaikan dalam 2 malam.

Jam 9 pagi aku otw ke Semarang, sampai bandara jam 2 siang. Lanjut bertemu kawan² PMM di bandara, kemudian kami check-in bersama, lalu terbanglah kami ke Jakarta sesuai jadwal. Pengalaman pertama naik pesawat, ternyata tidak seribet itu, cukup menyenangkan, not that bad. Walaupun tidak dapat kursi dekat jendela, tp gpp.

Bandara Ahmad Yani Semarang (1)
  
Batik Air SRG-CGK

Setelah terbang selama 1 jam, akhirnya sampai di Jakarta, kami ke ruang tunggu terminal keberangkatan, kami menjamak salat isya dan maghrib di musala terminal 2d bandara Soekarno-Hatta, tapi anehnya musala tersebut sepertinya salah arah kiblatnya, pas aku cek di aplikasi kompas, arah kiblat musalanya malah ke arah utara, tapi entahlah mana yg benar mana yg salah.

Bus Bandara CGK

Ruang Tunggu Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta

Setelah menunggu selama 4 jam di ruang tunggu, akhirnya kami masuk ke gate keberangkatan karena satu jam lagi pesawat akan take off menuju Sorong. Semuanya berjalan lancar, sayangnya 2 kali naik pesawat aku tidak pernah dapat kursi pinggir jendela, tp gpp.

otw CGK--SOQ


Kami lepas landas pukul 00.05 WIB dan akan mendarat di Sorong pukul 06.10 WIT, kami akan melihat sunrise di atas ketinggian. Saat penerbangan, di luar jendela sangat gelap, karena malam hari dan melewati lautan, aku di pesawat pun tidak bisa tidur nyenyak karena kakiku terasa sangat pegal. Namun tidapapa, karena di pagi harinya kami bisa menikmati keindahan cahaya matahari terbit dari atas langit Papua. 

05.49 WIT

06.05 WIT, view Kota Sorong

Kami mendarat di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, sesuai jadwal pada pukul 06.10 WIT. Kami langsung disambut oleh pihak Unimuda dan dosen Modul Nusantara kami di depan bandara, kami pun langsung menuju rombongan kelompok masing-masing. Setelah berkumpul dengan kelompok di depan bandara, kami semua dari kelompok 1—14 berbaris berjalan diiringi dengan tabuhan alat musik khas daerah sini, lupa aku apa namanaya. Sungguh cukup meriah kala itu iring-iringan di bandara.

Bandara Kota Sorong

Bandara Kota Sorong (1)

Iring-iringan Mahasiswa PMM ke Parkiran Bus

Iring-iringan Mahasiswa PMM ke Parkiran Bus (1

Iring-iringan Mahasiswa PMM ke Parkiran Bus (2)


Setelah itu, kami berfoto bersama di parkiran bandara sebelum naik bus ke kampus Unimuda. Kami dibagi 2 kloter keberangkatan, karena bus nya tidak cukup jika semuanya langsung naik. Aku dapat jatah di kloter 2, saat menunggu bus jemputan kembali ke bandara untuk menjemput kloter 2, itu sungguh aku sangat mengantuk sekali, itu adalah Fadhlu yang paling ngantuk yg pernah kuingat, karena 48 jam sebelumnya aku tidak tidur dengan cukup, jatah ngantukku mengumpul di saat itu semua. Setelah menunggu sekitar 1 jam setengah, akhirnya bus jemputan sudah datang kembali. Bergegaslah kami naik ke bus untuk menuju ke kampus Unimuda.

Bus Unimuda

Bus Unimuda (1)

Perjalanan dari Bandara Sorong ke kampus Unimuda ditempuh dengan menggunakan bus selama kurang lebih 30 menit, dengan kondisi jalan utama besar yang sudah diaspal halus dan jalan cor pada sebagian ruas jalan yang lain. Ketika sedang perjalanan, mataku benar-benar terbuka, melihat kota Sorong dengan mata kepala sendiri, ternyata kota Sorong merupakan kota yang sudah hampir mirip dengan kota di Jawa, mungkin bedanya bahwa di sini masih jarang gedung besar tinggi. Namun, sudah ramai bangunan modern seperti Hotel, MR. DIY, Alfamart, Indomaret, Ramayana, Mixue, dsb.

Unimuda terletak di Kabupaten Sorong, Distrik Aimas, Kampung Malawele. Di sini pun daerahnya sudah cukup ramai, sudah tersedia Alfamart dan Indomaret yang berhadapan, dan jalannya pun sudah dicor lebar. Kota dan Kabupaten Sorong merupakan kota multikultur, sangat banyak pendatang dari luar Papua yang sudah menetap di sini, baik perantau dari program Transmigrasi dari zaman Soeharto dulu atau bahkan perantau mandiri pun sudah cukup banyak. Fun fact: pedagang di sini kebanyakan orang dari Jawa.

Setelah kami melakukan perjalanan selama 30 menit, akhirnya kami sampai di area kampus Unimuda. Kami makan bersama, dengan makanan yang disediakan oleh pihak Unimuda, setelah itu kami mendengarkan sedikit penyambutan oleh Rektor dan berfoto bersama, kemudian kami diantar ke asrama masing-masing. Hari pertama dan kedua di sini terasa cukup berat, dinamika yang naik turun, tapi di hari ketiga dan seterusnya Alhamdulillah mental ini sudah cukup bisa beradaptasi. 

Penyambutan dan Foto Bersama di Depan Gedung Papua Berkemajuan,
diiringi dengan tabuhan alat musik daerah sini yang saya lupa namanya.

Pengantaran ke Asrama Masing-Masing

Sekian, begitulah kronologi cerita mengapa saya bisa menginjakkan kaki ke Papua. Nantikan cerita selanjutnya tentang Modul Nusantara kami di blog ini (kalau mood). Apa itu Modul Nusantara? Nanti saya jelaskan di tulisan selanjutnya, yang pasti itu adalah jalan-jalan, hehehe.

-regards

Komentar